Writers live twice - Natalie Goldberg

8/16/2018 09:27:00 PM

Belajar Membatik di Museum Batik Yogyakarta

by , in

Jadi inget dulu, waktu SMP pernah disetrap Bu Retno di depan kelas gara-gara telat masuk pelajaran batik. Beneran dijejer-jejer gitu sama anak-anak lain dan jadi tontonan anak-anak ‘rajin’. Bu Retno ini termasuk guru yang agak ‘mematikan’ karena tegas (galak?). Tapi beneran Bu, kali ini saya mau minta maaf dan menyesali perbuatan saya karena dulu sering males ikut kelas membatik dan sekarang semacam kena karma karena saya butuh keterampilan membatik demi bertahan hidup :( hiks.

Karena tuntutan profesi (ceilah haha), saya merasa bahwa saya harus bisa membatik lagi. Mulailah saya mencari informasi tempat pelatihan membatik. Saya punya beberapa referensi yang pada akhirnya atas saran Mbak Mega saya memilih pergi ke Museum Batik. Lokasinya ada di Jl. Doktor Sutomo No.13A, Bausasran, Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55211. Bisa dicari via google map dengan kata kunci "Museum Batik Yogyakarta".

Disana, sudah ada resepsionis yang akan melayani dan menjelaskan tentang kelas membatik. Kalau saran saya sih, mendingan ambil yang kelas paket yang Rp 95.000 atau Rp 80.000 sudah termasuk tiket keliling museum yang seharga Rp 20.000. Jauh lebih murah daripada biaya perjam karena kita tidak bisa memprediksi akan selesai berapa lama. Biaya perjamnya Rp 40.000 untuk satu jam pertama, satu jam kedua Rp 30.000, dsb. Paket batik yang Rp 95.000 untuk paket batik warna-warni, sedangkan yang Rp 80.000 untuk 1 warna saja. 

Bu Wakiyem atau Mas Eko atau mas-mas yang lain akan dengan sabar membimbing kita disana. Kita akan mendapat sehelai kain yang sudah bergambar. Dulu waktu di SMP, saya harus menggambar sendiri, mulai dari gambar di buku gambar kemudian digambar ulang di kain. Kainnya yang dipakai harus kain katun, prima atau primisima. Nah, ini ringkasan alat, bahan, dan cara membatik. 

Batik Colet 
Proses mewarnai
Alat:
  • Kertas dan pensil untuk menggambar
  • Kompor kecil
  • Wajan kecil
  • Kain katun (prima/primisima)
  • Canting
  • Panci untuk merebus
  • Kompor besar untuk merebus
  • Palet warna
  • Kuas lukis
  • Kuas ukuran sedang. Fungsinya untuk mengaplikasikan waterglass.
  • Koran bekas. Fungsinya sebagai alas ketika mewarnai. 

Bahan:
  • Malam
  • Pewarna remasol (merah, biru, kuning, ungu). Warna dasar aja, selanjutnya nanti kita bisa berkreasi mencampur warna-warna tersebut.
  • Waterglass. Fungsinya untuk mengunci warna supaya ketika direbus, warnanya tidak luntur.
 Langkah:
  1. Gambar motif pada kain dengan pensil. Sebelumnya bisa gambar dulu di buku gambar, kemudian disalin ulang. Di Museum Batik, kita tidak perlu melakukan hal ini karena kita sudah diberi kain bergambar.
  2. Mulailah proses membatik dengan canting dan malam yang sudah dilelehkan. Ikuti garis pada gambar tadi. Arahkan canting 300 dan pastikan malam tidak dingin ketika berada di canting (hanya sekitar 20 detik di cantingnya lalu ganti dengan malam yang baru).
  3. Pastikan malam juga tembus ke bagian belakang kain. Seandainya tidak tembus, bisa digambar ulang dari sisi kain belakang.
  4. Warnai dengan kuas kecil. Warnanya suka-suka kita tinggal mencampur warna di palet. Jangan lupa alasi dengan koran bekas dan jangan sampai geser.
  5. Angin-anginkan. Jangan jemur pada suhu yang panas karena akan membuat malam leleh.
  6. Aplikasikan waterglass dengan kuas besar. Alasi dengan koran bekas juga.
  7. Angin-anginkan lagi sebentar.
  8. Cuci dengan air.
  9. Didihkan air di panci.
  10. Celup kain di air mendidih. Untuk kain yang besar, bisa ditambahkan tepung kanji supaya malam yang sudah terlepas tidak menempel lagi di kain.
  11. Cuci dan pastikan malam luntur.
  12. Jemur sampai kering.

Nah, itu tadi cara membatik dengan teknik colet. Saya hanya membutuhkan waktu kurleb 2 jam untuk menyelesaikan itu semua dan jalan-jalan ke museum. Cepet, kan?
Kali kedua (lagunya Raisa?) saya pergi ke Museum Batik lagi. Saking gabutnya hahaha. Yang kedua ini saya belajar batik klasik. Batik klasik ini hanya menggunakan 2 warna, biru tua atau hitam dan coklat. Langkahnya lebih banyak tapi menurut saya sih hasilnya lebih elegan. 


Batik Klasik
Setelah diwarna sebelum direbus

  • Alat dan bahan sama tapi pewarnanya hanya biru tua/hitam dan coklat.

Langkah:
  1. Langkah pertama sama dengan batik colet.
  2. Langkah kedua juga sama dengan batik colet.
  3. Warnai biru tua/hitam dengan kuas ke seluruh permukaan kain dengan menggunakan kuas besar. Langsung oles aja, yang penting rata. Jangan lupa alasi dengan koran bekas.
  4. Keringkan bisa pake sinar matahari langsung (asal jangan terlalu panas) atau dengan pengering rambut (hair dryer).
  5. Aplikasikan waterglass. Alasi dengan koran juga.
  6. Keringkan lagi seperti sebelumnya.
  7. Cuci dan rebus untuk menghilangkan warna. Nah, disini hasilnya biru tua dan putih (bekas malam yang mengelupas).
  8. Batik ulang bagian tertentu. Yang saya lakukan adalah dengan menutup bagian motif-motif besar pada kain.
  9. Warnai dengan warna coklat dengan kuas. Koran bekas sebagai alasnya jangan lupa.
  10. Keringkan.
  11. Aplikasikan waterglass. Pakai alas koran bekas lagi, ya.
  12. Keringkan.
  13. Cuci dan rebus sampai malam hilang.
  14. Cuci dan keringkan.


Motif batik klasik itu seperti kawung, parang, tambal, dsb. Tapi saya hanya pakai motif yang sudah ada tapi prosesnya mengikuti proses batik klasik. Setelah belajar membatik (lagi) ini, saya paham kenapa batik tulis itu muahal :/ yang mahal bukan alat dan bahannya, tapi kesabaran dan keterampilannya.

Catatan:
Watergel itu kalau beli bentuknya gel. Jadi, perlu diencerkan dengan menggunakan air panas.
kemiringan canting perlu diperhatikan, 30 derajat ya, dan malam harus diganti dengan setelah 20 detik supaya malam meresap sempurna kedua sisi kain. 
Bahan pengganti, untuk mengunci warna yaitu jeruk asam, untuk pewarna bisa memakai warna alami misalnya kunyit, daun suji, dsb, untuk malamnya sendiri bisa memakai lilin. 
Waktu mewarnai, jangan sampai kain geser karena akan menimbulkan noda yang tidak diinginkan.

Nah, Jogja kan kota batik, nggak ada salahnya kalau ke Jogja sekalian belajar membatik. Seru banget loh, yakin deh. Saking serunya, saya sampai lupa nggak foto per-langkahnya :( Kalau penasaran langsung ke Museum Batik aja ya :).
5/14/2018 10:27:00 PM

Piknik ke Kebun Bunga Matahari di Pantai Glagah

by , in
Yang seperti kita semua tahu, beberapa tahun belakangan ini banyak sekali lokasi kebun bunga di Jogja yang menjadi tempat foto yang instagramable. Mulai dari kebun bunga amarilis sampai bunga matahari yang hampir ada di semua pesisir pantai. Kali ini piknik dadakan tanpa rencana. Awalnya iseng aja whatsapp-an sama Netti ngomongin kebun bunga, yang tiba-tiba dia respon dengan "Mengko jam 12.30 mangkat". Waaa emang gila itu anak.
Singkatnya, kami berangkat. Di tengah perjalanan, kami sadar bahwa baterai kamera ketinggalan. Hiks. Mau nggak mau harus putar balik. Balik ambil baterai lalu mengulang perjalanan T.T
Lokasi kebun bunga ada setelah pintu TPR pantai Glagah. Di sana langsung kelihatan kebun bunga matahari di kanan jalan. Ternyata, kebunnya sudah dikavling sama pemiliknya. Nah, sebelum masuk ada baiknya lihat-lihat dulu mau masuk kebun yang mana. Cukup bayar Rp 5.000 per orang untuk masuk. Dengan 5 ribu, kita bisa sepuasnya foto di sana. Tapi jangan merusak ya :)
Saya sempat beli bibit bunga matahari, satu bungkus Rp 5.000. Kata ibu yang jual sih bisa jadi 40-50 pohon. Kalau ada yang mau beli juga, jangan malu untuk bertanya tips dan trik menanam bunganya. Belum saya tanam sih, besok lain kali saya tuliskan deh.




 


Nah, terang banget kan fotonya? Iyalah. Soalnya pas siang bolong kesananya.
Bonus nih, foto-foto di Pelabuhan Tanjung Adikarto, pelabuhan nelayan milik Kulon Progo tercinta. Seharusnya sih, bayar Rp 5.000 untuk tiket masuk. Tapi kami nggak bayar karena nggak ada penjaganya.




Nah, sambil menyelam minum air kan? Siangnya lihat bunga matahari, sorenya bisa sekalian lihat matahari tenggelam. 

Kebun bunga matahari: kawasan objek wisata pantai Glagah. Pelabuhan Tanjung Adikarto sebelah baratnya doang. 


5/03/2018 10:46:00 AM

Piknik ke Girimulyo, Kulon Progo

by , in

Ayunan Langit, Girimulyo

Sebenarnya saya adalah tipe orang yang mendeskripsikan piknik itu adalah pergi ke pantai. Titik. Kalau bukan pantai bukan piknik namanya. Tapi, kemarin itu, pas libur hari buruh, saya diajak teman saya buat melihat kembang tebu sing kabur kanginan (*eh). Semacam pergi ke kebun aja sih, tempatnya terkenal karena sempat populer di Instagram. Saya sendiri sudah 2 kali ke sana. Pertama karena kebetulan lewat dan kedua karena nemenin temen foto prewedding.  Tapi karena teman saya belum pernah ke sana, ya udah iya-in aja ajakannya. Toh, deket dari rumah.
Awalnya emang tujuannya ke sana aja. Tapi kok, sepanjang jalan ada papan petunjuk ke arah-arah objek wisata yang lain? Yaudah lah ya, sekalian mampir. Objek wisata pilihan yang sejalur ada buanyak banget. Rugi kalau nggak mampir, soalnya buat naik ke gunungnya aja harus berjuang banget.

1.      1. Kembang Tebu Gendu
Ini tujuan awal kami. Walapun ini kali ketiga, tetap saja saya nggak tahu jalan menuju kesana. Kami ambil jalan memutar. Dari perempatan Kenteng, ke timur lurus ikuti jalan. Jalannya ‘seru’. Yang penting banyak berdoa dan pastikan kendaraan dalam kondisi prima T.T banyak papan petunjuk kok sepanjang jalan. Jadi, jangan khawatir kalau tersesat. J
Kami berangkat sekitar pukul 6 pagi, sampai di lokasi masih sepi (sekitar pukul 6.30). Sekarang sih, kembang tebunya sedang mekar-mekarnya. Dua tahun yang lalu terakhir saya kesana, pagi-pagi sudah ada warung yang jualan kopi dan gorengan. Tapi tadi pagi nggak adaaaa padahal lapeer belum sarapan. Kan paling enggak bisa makan tempe mendoannya disana. Ada gazebo buat istirahat, pengelolanya datang sekitar pukul 7.30 untuk naruh kotak kebersihan. Tapi tetep aja sih gazebonya kotor. Bukan salah pengelola yang tidak membersihkan, tapi pengunjung yang NGGAK BERTANGGUNG JAWAB. Kzl deh.  Waktu kemarin kami kesana, nggak ada tukang parkirnya dan kotak kebersihannya boleh diisi seikhlasnya.  Lokasinya sih cuma buat foto-foto saja. Lumayanlah fotonya buat nambah galeri instagram. Karena tebunya berbunga musiman, kayaknya lokasi ini juga ramenya musiman kali ya.





Lalu kami berpikir, kan masih pagi, masa mau langsung pulang. Karena sepanjang jalan kami melihat banyak papan petunjuk ke beberapa objek wisata, kami memutuskan untuk pergi ke tempat lain, yaitu Taman Sungai Mudal.

2.       2. Kebun Pinus
Dalam perjalanan ke Sungai Mudal dengan pertolongan Waze (hehe!) Kami menemukan lokasi ini secara ngga sengaja. Jadi bukan cuma Bantul yang punya hutan pinus ya, Kulon progo juga punya *nggak mau kalah*. Ga begitu jauh dari lokasi kembang tebu, tapi kami memang Cuma menyempatkan foto di jalan masuk kawasan hutan pinus (yang sebenarnya saya nyesel kenapa ngga masuk :)


Dalam perjalanan ke hutan pinus kami melihat banyak sekali papan petunjuk tempat wisata, yang membuat saya penasaran adalah Ayunan Langit. Ya, mirip-mirip Maribaya di Bandung gitu lah. Lalu kami memutuskan untuk mampir sebentar.

3.       3. Ayunan Langit
Nah, tempat ini sebenarnya sudah terkenal cukup lama. Namun, karena kami tidak pernah main ke kabupaten kami, maka kami bagaikan turis di kampung sendiri. Sedih, ya?
Karena masih pagi, lokasi masih sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang ketika kami sampai, mereka sudah selesai. Tiket masuknya Rp 7000/orang termasuk parkir. Nah, di ayunan langit ini, kita bisa sewa ayunan (aman, kok) dan berayun di ketinggian sekian mdpl (gak tau gue) kita bisa liat gunung dan sawah dari atas. Awalnya ragu, setelah eyel-eyelan sama si Berbi akhirnya saya mencoba memberanikan diri untuk menakhlukan rasa takut. Awalnya saya benar-benar ngga mau, tapi keinget kejadian ke Karimun Jawa saya jadi berani. Haha. Pake safety belt jadi jangan takut jatuh ya. Nah, sebenarnya bagus banget pemandangannya, karena saya panic jadilah saya teriak-teriak doang. Hahaa. Untuk bisa berayun-ayun kek gini, jasa sewa belt dan mas-masnya 20.000 lumayaaaan anu sih L TIPS: kalau mau puas ayunanya, datang pagi ketika belum banyak pengunjung. Lah, pokoknya saya teriak-teriak minta udahan, tapi malah diayun-ayun terus. Disuruh lepas tangan tapi kok ya anuu, semacam ngeri gitu. Begitu bilang, “muaaal masss” baru deh diberhentiin.
Begitu turun, pusing mual lah. Hahaha. Ya karena mungkin belum sarapan juga kali ya…
Udah selesai dan si Berbi curang karena ngga mau naik, kami melanjutkan perjalanan.
Cek instagram: @ayunan_langit




4.     4.  Kopi Pari
Karena kami belum sarapan dan kami lapaar sekali ditambah mual habis ayunan, kami lalu cari tempat makan. Sepanjang jalan, kami melihat papan Kopi Pari. Jadi kami penasaran lalu memutuskan ke sana.
Makan makan lah kayak there’s no tomorrow. Tempatnya unik dan sebenarnya hanya rumah biasa tapi didekorasi unik dengan menu khas desa. Menawarkan kopi Girimulyo asli tapi kami nggak minum kopi. Kan kami laper, jadi pesannya nasi. Perut orang Indonesia banget lah, nasi for lyfe. Yang asik adalah ada wifinya juga. Jadi lumayan sekalian istirahat setelah lelah jalan.  Kalau teman-teman mau menjelajah Kulon Progo apalagi area Girimulyo, mampir lah kesini untuk mencicipi kopi asli Girimulyo. Toilet dan mushola juga ada. Jadi sekalian jadi rest area gitu deh. Instagramnya @kopipari.

5.       5. (Akhirnya) Sungai Mudal
Seharusnya ini jadi lokasi kedua, tapi karena mampir-mampir banyak, kami baru sampai disini sekitar pukul 10.30. Udah rameeee. Parkirnya Rp 2000 dan tiket masuknya Rp. 6000. Hal yang saya sesali adalah, saya pakai sepatu cantik yang bikin repot di jalanan naik, dan juga nggak bawa baju ganti padahal disana pengen renaaaaanggg. Nekat si Berbi nyemplung pake ban pelampung cuma buat foto di kolam yang biru airnya.
Saya sih cuma kebagian foto aja dan nggak jadi naik sampai atas karena sudah lelah…





Pukul 11-an kami akhirnya memutuskan pulang. Si Berbi pulang dengan baju basah kuyup lho. Tapi sampai rumah saya (karena dia harus nganter saya pulang), kering deh bajunya.
Sekian hestionvacay yaa… lain waktu kalau ada yang ngajak, saya akan bagi-bagi cerita piknik lagi.


My Instagram