Writers live twice - Natalie Goldberg

Showing posts with label hestionvacay. Show all posts
Showing posts with label hestionvacay. Show all posts
5/01/2026 11:27:00 AM

Liburan ke Malaysia [Hari Keempat] - Kembali ke Kuala Lumpur

by , in

 Kamis, 26 Maret 2026

Kami sebenarnya berniat mau sarapan roti yang sudah kami beli di AEON mal pada hari sebelumnya tapi entah kenapa pagi itu lapar sekali, Akhirnya kami memutuskan untuk mencari sarapan nasi. Setelah selesai berkemas, kami ke luar hotel untuk mencari restoran. Kami tidak sengaja berhenti di sebuah restoran di area hotel kami. Kami makan di restoran Papayun Kitchen, kami makan nasi goreng, dan semacam mee kuahKami membayar sekitar 40 RM untuk sarapan kami. 

Selesai sarapan, kami kembali ke hotel untuk check out dan segera menuju Melaka Sentral untuk naik bus kembali ke Kuala Lumpur. 

Kali ini, kami naik armada bus KKKL Sdn. Busnya nyaman, tapi tidak direkomendasikan jika membawa anak kecil yang butuh space untuk tidur karena ada hand rest yang cukup mengganggu.

 

Kami tiba di di TBS kira-kira pukul 14.00. Kami berbelanja dulu di sebuah swalayan di area terminal sebelum ke hotel. Kami membeli onorigi dan camilan karena kami rasa tidak akan sempat makan di luar untuk makan siang. Kami memutuskan untuk makan makanan kecil saja di hotel. Di swalayan itu, saya menemukan susu segar UHT untuk Agi karena selama ini Agi hanya minum susu kotak biasa. Kemudian, kami mencari taksi untuk menuju hotel kami. Nah, kami lupa berapa yang harus kami bayar untuk menuju hotel Leo Palace karena tante V3 menggunakan aplikasi lain (bukan Grab). Hotel kami berada di kawasan Chowkit. 

Setelah check-in hotel (tidak ada pajak turis) kami pergi keluar untuk mencari tempat laundry karena kami sudah kehabisan pakaian. Kami berjalan kaki di bawah hujan mengikuti peta di Google Map. Kami sempat melihat menara Petronas dalam perjalanan. Akhirnya, kami menemukan tempat laundry itu. Kami berada di sana sekitar 1 jam untuk mencuci baju sambil menunggu hujan reda. Setelah selesai, kami pergi mencari makan malam. Kami naik taksi untuk pergi ke Sunway Putra Mall dan makan malam di sana, tentu saja kami naik Grabcar lagi. Kami makan malam di sebuah restoran di dalam mal, kami makan laksa dan mi goreng ala Malaysia. Kami menghabiskan 40 MYR di sana. 

Pulangnya, kami jalan kaki saja menuju hotel. Ternyata lokasinya tidak jauh.

Kami bebersih lalu istirahat.

 

Agi masih menjadi anak baik, bahagia, kooperatif. Thank you, Agi. 

 

Dokumentasi video perjalanan ada di sini. 

 

 

5/01/2026 10:19:00 AM

Liburan ke Malaysia [Hari Ketiga] - Menyusuri Melaka

by , in

 Rabu, 25 Maret 2026

Saya mengawali hari dengan sakit tenggorokan. Dan Agi, entah kenapa mimisan. Aduh. Kami tidak bisa mengoperasikan remot ACnya sehingga kami tidur dengan suhu terlalu dingin. Untungnya Agi baik-baik saja. Dia tahan dingin walaupun ya itu tadi, tiba-tiba mimisan.

Pukul 9 pagi, kami keluar hotel untuk mencari makan pagi. Kami pergi ke resto Baba Kaya, sesuai rekomendasi Google. Lokasinya tidak jauh dari hotel, 10 menit jalan kaki kira-kira. Kami makan nasi lemak, roti kaya, masala tea, dan kopi khas Melaka. Enak dan kenyang. Kami menghabiskan 40 MYR untuk bertiga. 

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Tante V3 harus membeli oleh-oleh di pasar, sedangkan Agi ingin naik perahu keliling sungai Melaka. Saya dan Agi pun berjalan ke konter tiket tapi batal naik perahu karena tiketnya terlalu mahal. Untuk turis internasional harga tiketnya 50 MYR, untuk anak-anak 45 MYR. Agi sempat menangis dan kecewa. Untungnya tidak lama. Dia melihat satu kapal besar yang kemudian saya tahu itu adalah Museum Samudera dan minta masuk ke sana. Ya sudah tidak apa-apa. Tiket untuk turis internasional dewasa 20 MYR dan untuk anak-anak gratis. Saya bayar dengan QRIS dan berhasil!

 

Kami masuk ke museum kapal itu, Agi langsung mencari di mana kemudinya. Kami tidak menemukannya. Museum memang tidak cocok untuk balita. Kami hanya berada di sana sekitar 15 menit lalu keluar. 

Di seberang museum, ada pasar oleh-oleh. Saya masuk sebentar walaupun tidak membeli apapun.

Di sana, kami bertemu tante V3 lagi. Karena cuaca panas, kami memutuskan untuk pergi ke mal. Jauh-jauh ke Melaka, ujung-ujungnya ke mal juga. 

Kami naik taksi online. Ada Mal AEON di sana. Kami makan es krim, membeli obat sakit tenggorokan dan tolak angin di Watson, dan juga membeli roti di sana. 

Sesudah itu, kami pulang ke hotel. Kami tidur siang karena badan kami sedang tidak dalam kondisi sehat.

Untungnya, Agi juga mau tidur siang.

 

Kami bangun sore harinya lalu pergi makan malam lebih awal. Ya, kami lapar karena kami hanya makan roti untuk makan siang. Kami pergi ke 7 Green Cafe karena kami merasa butuh sayur. Kami belum makan sayur selama berada di Malaysia. 

Kami makan salad dan nasi goreng. Lagi-lagi, kami pesan 2 jenis makanan untuk bertiga. Kafenya lucu, seladanya langsung dipetik dari pot hidroponik yang ada di dalam kafenya sendiri. Porsinya banyaaaaak sekali. 

Setelah makan selesai, sebenarnya kami mau pergi ke Strait Mosque. Tetapi, setelah kami cek di Google Map, masjidnya tutup. Ya sudahlah, daripada nekat ke sana dan tidak bisa masuk, kami pun memutuskan pulang ke hotel. Kami melewati Jonker Street lagi. Melihat kesibukan turis-turis lain yang berbelanja, berfoto-foto, atau sekadar melihat-lihat. 

Hari kedua di Melaka menyengkan. Agi tidak rewel. Dia sehat, ibunya sakit >.< Alhamdulillah.


Video dokumentasi hari ketiga ada di sini.

 

 

 

5/01/2026 10:15:00 AM

Liburan ke Malaysia [Hari Kedua] - Dari Kuala Lumpur ke Melaka

by , in

 Selasa, 24 Maret 2026

 

Di KL, kami baru bisa salat subuh sekitar jam 6. Ya, benar. Jam 6 masih gelap di sana. Jadi, kami terbawa santai. Jam 8 pagi, setelah selesai mandi dan siap-siap kami jalan-jalan keliling hotel walaupun selanjutnya kami memutuskan untuk sarapan di resto tepat samping hotel saja. Kami makan nasi lemak dan roti canai. Saya minum jeruk madu, dan tante V3 minum teh tarik. Porsinya besar jadi kami bertiga berbagi makanan. Kami menghabiskan 23 MYR atau sekitar Rp90.000 untuk sarapan. 

 

Setelah itu, kami bersiap untuk check-out. Sekitar jam 10, kami menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS) untuk menuju Melaka. Tiket sudah kami pesan sebelumnya melalui aplikasi easybook.com. Harga satu tiketnya sekitar Rp60.000 dengan armada bus Mayangsari.

 

Terminalnya bersih. Papan petunjuknya jelas. Kami harus naik ke lantai 3 untuk naik busnya. Kami melakukan check-in mandiri dengan memindai kode QR di e-ticket kami. Selanjutnya, menunggu bus datang. Busnya tepat waktu. Sayangnya, penumpang tidak duduk sesuai nomor tiket. Kami cukup kesal. Oh ya… Agi sangat kooperatif! Kami meninggalkan TBS pukul 11.30 untuk menuju Melaka Sentral, terminal pemberhentian bus. Sepanjang jalan Agi tidur. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam.

 

Setibanya kami di terminal Melaka Sentral, kami memesan taksi daring ke hotel Tun Fatimah Riverside Hotel. Hotelnya terletak di tepi sungai Melaka dan dari jendela kamar kami bisa melihat sungai Melaka langsung. Tepuk tangan untuk Tante V3 yang memilihkan hotel ini 😆💕

 

Waktu check-in di hotel itu mulai jam 3. Kami tiba kira-kira pukul 14.00. Jadi, kami menitipkan koper lalu mencari rumah makan di sekitar hotel. Kami makan di sebuah foodcourt di pinggir sungai. Ada beberapa menu. Kami makan shawarma dan tacos. Tentu saja, kami sharing foods lagi karena makanan di Malaysia porsinya besar. Bahkan kami harus membungkus sisa makanannya. Kami menghabiskan sekitar 40 MYR untuk makan kali ini. 

Setelah selesai makan, kami menuju hotel, check-in (tentu saja membayar pajak turis 10 MYR dan deposit 50 MYR), dan beristirahat.

Sorenya, sekitar jam 17.00 kami keluar lagi untuk jalan-jalan sore menyusuri sungai Melaka.

 

Kami berjumpa dengan sesama turis di sepanjang sungai. Ada banyak resto dan cafe di sepanjang sungai itu. Tak terasa kami tiba di lapangan merah, objek wisatanya. Kami menikmati sore itu di sana, berfoto, makan rujak, dan menikmati keriuhan tempat itu. Kami tidak masuk ke museum karena dulu saya sudah pernah dan sepertinya lebih baik tidak membawa anak kecil karena mungkin dia juga tidak tertarik. Agi merengek minta ikut boat tour. Saya hanya bilang “Besok, ya…”

 

Mendekati azan maghrib, sekitar pukul 7, kami mencari masjid, kami mengikuti Google Map, melewati Jonker Street, hingga kami bisa numpang salat di masjid itu. Setelah magrib, kami mencari swalayan untuk membeli air minum dan kami memutuskan untuk membeli mi dalam gelas dan sandwich untuk Agi karena kami terlalu lelah untuk makan di luar. Dan juga karena kami masih punya sisa makan siang tadi.

Kami pun kembali ke hotel sekitar jam 8.30. Kami mandi, makan, lalu tidur.


Video dokumentasi hari kedua ada di sini.

 

 

5/01/2026 10:06:00 AM

Liburan ke Malaysia [Hari Pertama] - Perjalanan dari Yogyakarta ke Kuala Lumpur

by , in

Hello (again)!

    Ide untuk liburan ke Malaysia ini sesungguhnya adalah ide dadakan dan tanpa pertimbangan. Awal Februari, tiket pesawat dipesan. Saya berangkat dengan anak saya, si Agi, dan teman saya, sebut saja tante V3. 

Dia yang memesan tiket pesawat dan hotel. Saya yang menyusun rencana perjalanan. Untungnya, dia tidak keberatan dengan slow traveling dengan balita ini. Padahal balitanya juga baru sekali ini pergi jauh ke luar negeri.

Kenapa tanpa bapaknya Agi? Bapaknya tidak mau ikut. Hihi… 

 

Senin, 23 Maret 2026

Tepat pada hari ketiga lebaran idulfitri, kami berangkat. Kami berangkat dari rumah saya ke YIA (Yogyakarta International Airport) sekitar pukul 7.30 pagi naik Grabcar. Sebenarnya bisa saja naik kereta bandara dari stasiun Tugu. Akan tetapi, jadwal kereta dengan harga 20.000 terlalu pagi sedangkan untuk jadwal yang cocok harganya 70.000. Setelah dipikir-pikir, lebih praktis dan efisien naik taksi saja. 

 

Pukul 8.30 kami sudah tiba di bandara. Kami cukup lama menunggu di ruang tunggu karena pesawat kami terbang pada pukul 11.45. Bawaan kami tidak banyak. Jadi, jatah 7kg/orang aman saja. Hanya, 6 susu kotak yang saya bawa harus dibuang ketika proses pemeriksaan bagasi. Huu… sedih. Tapi masih bersyukur karena petugas memperbolehkan membawa 1 kotak susu Ultra Mimi untuk Agi. Proses pemeriksaan dengan petugas imigrasi juga berjalan lancar. Petugas hanya menanyakan tujuan ke Malaysia, di mana kami akan tinggal, berapa hari, dan apakah sudah ada tiket pulang. Aman. Walaupun pergi berkelompok, pastikan semua anggota tahu tentang hal ini, ya.

 

Oh ya, awalnya saya ragu untuk membawa stroller. Tetapi untungnya ini tidak menjadi masalah. Stroller boleh dibawa masuk sampai depan pintu pesawat. Proses boarding berjalan lancar dan pesawat terbang tepat waktu. Agi senang sekali akhirnya dia bisa naik pesawat sungguhan. Walaupun pada akhirnya, dia tidur selama perjalanan.

 

    Kami tiba di KLIA2 dengan selamat. Sebelumnya, kami sudah  mengisi formulir Malaysia Digital Arrival Card (MDAC) Formulirnya bisa diisi 3 hari sebelum kedatangan. Proses imigrasi memakan waktu satu setengah jam. Si Agi sudah agak rungsing karena bosan. Setelah selesai proses imigrasi, kami langsung makan di Resto Memang Meaw di KLIA2. Ada drama salah pesan menu yang ternyata Agi tidak bisa makan karena terlalu pedas untuk dia. Dia pun makan onigiri Indomaret yang dibeli di bandara tadi.

Catatan: lebih baik pesan makanan di pesawat aja deh karena harga makanan di resto bandara mahal sekali >.< Opsi yang lebih murah ya membawa bekal sendiri.Setelah itu, kami pesan taksi Grab untuk menuju De Elements Business Hotel di mana kami menginap semalam. Dari KLIA2 ke hotel memakan waktu sekitar 1 jam dengan membayar 86.19 MYR. Sengaja kami memilih hotel dekat Terminal Bersepadu Selatan (TBS) karena esok harinya kami akan pergi ke Melaka. 

 

    Saya baru sadar, ternyata KL dan Jakarta punya beda waktu 1 jam. Jam 19.00 ketika kami masih di taksi, masih ada matahari. Kami diantar oleh sopir taksi perempuan yang ramah sekali dan dugaan saya, dia menjadi sopir karena gabut saja. Saya bisa melihat barang-barang dia di mobilnya bermerk semua dan juga dia memberikan Agi amplop lebaran. Alhamdulillah.

Kami tiba di hotel, check-in, kemudian bebersih. Ada pajak turis 8 MYR dan deposit 50 MYR ketika masuk hotel.

 

Hotelnya murah, cukup bersih, dan di sekitarnya ada banyak toko dan resto. Pada malam harinya, kami membeli burger di resto depan hotel dan air minum di warung. Lalu, kami pun tidur.

Agi was a nice boy, he didn’t complain about the long trip and everything. He was happy!

 

 

Video dokumentasi perjalanan hari pertama di sini.




11/20/2019 10:24:00 AM

Dili untuk Kedua Kali

by , in

-->
Menjelang Pulang #30

20 Sepetember 2019, hari pertama tiba di Dili :)

Rasa-rasanya saya memang harus rajin menulis di sini sebagai pengingat bahwa saya pernah menginjakkan kaki di Bumi Lorosae. Kedatangan saya ke sini sebenarnya sudah menjadi kali kedua setelah tahun lalu saya juga bertugas di sini. Ada sedikit penyesalan tahun lalu saya sama-sekali tidak punya kenangan yang bisa saya bagikan. Jadi, ayo kita mulai =)

Untuk apa ke Timor Leste?
Masih sama seperti tahun lalu yaitu menunaikan tugas sebagai duta bahasa negara. Ya, para duta bahasa ditugaskan ke berbagai negara untuk menduniakan bahasa Indonesia, termasuk Timor Leste. Hanya saja, saya merupakan salah satu yang sangat beruntung bisa ke TL untuk kedua kalinya yang artinya saya masih dipercaya di sini dan kerja saya tidak terlalu mengecewakan tahun lalu J.
Penugasan kali ini membawa misi berbeda dengan penugasan yang lain. Karena, selain mengajarkan bahasa Indonesia dan budayanya, kali ini saya dan tim lebih berfokus untuk melatih para pengajar BIPA di Timor Leste, Training of Trainers (ToT) istilahnya. Di Timor Leste sendiri, bahasa Indonesia sendiri sudah diajarkan di sekolah oleh guru-guru yang bisa berbahasa Indonesia. Karena kebanyakan pengajar bukan berlatar belakang pendidikan, dan juga kurikulum dan system pengajaran yang masih belum jelas, diperlukan semacam pelatihan bagi para pengajar supaya bisa mengajar dengan baik dan benar.

Mengapa ke TL lagi?
Seandainya saya bisa memilih pasti saya akan memilih ke negara di Eropa atau Australia, negara harapan para hampir semua duta bahasa. Di samping bergengsi, bisa untuk isi feed Instagram, ya kan? Tapi sayangnya, selain tak bisa memilih saya juga merasa punya tanggung jawab untuk siap sedia ditugaskan ke mana pun tempatnya. Wakanda pun oke-oke saja sebenarnya “). Sebagian warga Timor Leste masih bisa dan sudah bisa berbahasa Indonesia sebenarnya. Jadi utusan yang ditugaskan ke Timor Leste seharusnya berbangga, karena tidak hanya harus bisa mengajar bahasa Indonesia, namun juga membawa ‘misi’ lain. Seperti yang saya sebutkan tadi, kudu mampu menyelenggarakan ToT, mengajarkan budaya-budaya, dan lain-lain. Selain itu, wajib bisa bertahan hidup melawan teriknya matahari, fisik yang kudu kuat jalan, dan terbatasnya hiburan di sini. Nah, lain kali akan saya ceritakan versi kehidupan di TL seperti apa J.

Bagaimana perasaan ketika tiba di TL untuk kedua kalinya?
Semenjak kepulangan saya ke Indonesia, memang ada sebentuk rindu untuk Timor Leste. Walaupun panas dan tidak ada hiburan (T.T) entah apa yang membuat Dili bisa dirindukan. Mungkin karena selama di Dili saya punya kenangan cukup banyak dengan orang-orangnya, dengan pantainya, dan hal-hal lain yang dulu pernah saya lakukan di sini.

Untuk menutup tulisan Menjelang Pulang #30 kali ini, doakan saja saya punya cukup waktu untuk tetap konsisten menulis. =)  See ya... Xx. /h


11/06/2019 08:13:00 AM

Menyapa (kembali) dari Dili

by , in

Bundaran Elemloi

Niat saya, mau menulis sesuatu di sini setiap minggu supaya ada yang bisa menjadi kenang-kenangan untuk saya bahkan anak cucu saya nantinya. Tapi kenyataannya pada hari yang ke 40 sekian tak sempat pun menengok laman ini. Sedih kan... :(

Intinya, saya kembali lagi ke Dili, setelah tahun lalu saya datang dan sempat mencecap panas terik hujan beceknya kota kecil ini. Ya, masih dengan tugas yang sama, sebagai duta bahasa negara. Bangga? Iya sudah pasti. Dipercaya kedua kalinya untuk mengemban tugas di negara yang sama merupakan bukti bahwa tahun lalu kinerja saya tidak begitu memalukan -.-. Nah, seperti itu kira-kira. Walaupun di sisi lain, melihat teman-teman yang setiap tahun pindah dari Aussie ke Inggris, dari Swiss ke Aussie, atau Timor Leste ke Italia sungguh membuat iri tak bertepi. But still, everything happens for a reason, doesn't it?
Timor Plaza, satu-satunya mall di Dili

Dili masih sama seperti tahun lalu. Saya masih berjumpa dengan kehangatan sambutan orang-orangnya (apalagi mantan murid-murid saya), masih dengan mikrolet dengan jedug-jedug musiknya, masih dengan maun penjual sayur gerobak dengan full sound system, dan satu-satunya mal yang tutup pukul 6 sore.

Lain waktu, saya akan cerita lebih banyak. Semoga punya waktu. Salam dari Dili. Xx



8/16/2018 10:35:00 PM

Kemah di Kampung Pitu, Gunung Kidul

by , in
Saya tuh sebenarnya nggak terlalu suka gunung dan kemah (aku anak pantaaaaiii dan mall hahaha). Tapi karena temen-temen ngajakin ya ayoklah.
Berawal dari broadcast group yang menawarkan open trip ke Kampung Pitu, jadilah kami kesini. Beruntunglah kami karena Mas Yuli dan Mas Weswi sanggup ngemong cewek-cewek yang rapuh ini.
Yang unik dari Kampung Pitu ini adalah hanya 7 kepala keluarga yang tinggal di tempat itu. Sudah turun temurun. Sekalipun ada anggota yang ingin memisahkan diri dari kartu keluarga tidak akan bisa. Jadi sampai saat ini memang hanya ada 7 keluarga di kampung tersebut.







Ini orang yang paling berjasa
Saya nggak bisa cerita banyak karena emang udah lama jadi saya lupa. Nah, ini pentingnya menulis, untuk mengabadikan hal-hal yang tak awet direkam ingatan.

Well, what I can say is although it's not my cup of tea, that would be something worth it to my life. 
5/14/2018 10:27:00 PM

Piknik ke Kebun Bunga Matahari di Pantai Glagah

by , in
Yang seperti kita semua tahu, beberapa tahun belakangan ini banyak sekali lokasi kebun bunga di Jogja yang menjadi tempat foto yang instagramable. Mulai dari kebun bunga amarilis sampai bunga matahari yang hampir ada di semua pesisir pantai. Kali ini piknik dadakan tanpa rencana. Awalnya iseng aja whatsapp-an sama Netti ngomongin kebun bunga, yang tiba-tiba dia respon dengan "Mengko jam 12.30 mangkat". Waaa emang gila itu anak.
Singkatnya, kami berangkat. Di tengah perjalanan, kami sadar bahwa baterai kamera ketinggalan. Hiks. Mau nggak mau harus putar balik. Balik ambil baterai lalu mengulang perjalanan T.T
Lokasi kebun bunga ada setelah pintu TPR pantai Glagah. Di sana langsung kelihatan kebun bunga matahari di kanan jalan. Ternyata, kebunnya sudah dikavling sama pemiliknya. Nah, sebelum masuk ada baiknya lihat-lihat dulu mau masuk kebun yang mana. Cukup bayar Rp 5.000 per orang untuk masuk. Dengan 5 ribu, kita bisa sepuasnya foto di sana. Tapi jangan merusak ya :)
Saya sempat beli bibit bunga matahari, satu bungkus Rp 5.000. Kata ibu yang jual sih bisa jadi 40-50 pohon. Kalau ada yang mau beli juga, jangan malu untuk bertanya tips dan trik menanam bunganya. Belum saya tanam sih, besok lain kali saya tuliskan deh.




 


Nah, terang banget kan fotonya? Iyalah. Soalnya pas siang bolong kesananya.
Bonus nih, foto-foto di Pelabuhan Tanjung Adikarto, pelabuhan nelayan milik Kulon Progo tercinta. Seharusnya sih, bayar Rp 5.000 untuk tiket masuk. Tapi kami nggak bayar karena nggak ada penjaganya.




Nah, sambil menyelam minum air kan? Siangnya lihat bunga matahari, sorenya bisa sekalian lihat matahari tenggelam. 

Kebun bunga matahari: kawasan objek wisata pantai Glagah. Pelabuhan Tanjung Adikarto sebelah baratnya doang. 


5/03/2018 10:46:00 AM

Piknik ke Girimulyo, Kulon Progo

by , in

Ayunan Langit, Girimulyo

Sebenarnya saya adalah tipe orang yang mendeskripsikan piknik itu adalah pergi ke pantai. Titik. Kalau bukan pantai bukan piknik namanya. Tapi, kemarin itu, pas libur hari buruh, saya diajak teman saya buat melihat kembang tebu sing kabur kanginan (*eh). Semacam pergi ke kebun aja sih, tempatnya terkenal karena sempat populer di Instagram. Saya sendiri sudah 2 kali ke sana. Pertama karena kebetulan lewat dan kedua karena nemenin temen foto prewedding.  Tapi karena teman saya belum pernah ke sana, ya udah iya-in aja ajakannya. Toh, deket dari rumah.
Awalnya emang tujuannya ke sana aja. Tapi kok, sepanjang jalan ada papan petunjuk ke arah-arah objek wisata yang lain? Yaudah lah ya, sekalian mampir. Objek wisata pilihan yang sejalur ada buanyak banget. Rugi kalau nggak mampir, soalnya buat naik ke gunungnya aja harus berjuang banget.

1.      1. Kembang Tebu Gendu
Ini tujuan awal kami. Walapun ini kali ketiga, tetap saja saya nggak tahu jalan menuju kesana. Kami ambil jalan memutar. Dari perempatan Kenteng, ke timur lurus ikuti jalan. Jalannya ‘seru’. Yang penting banyak berdoa dan pastikan kendaraan dalam kondisi prima T.T banyak papan petunjuk kok sepanjang jalan. Jadi, jangan khawatir kalau tersesat. J
Kami berangkat sekitar pukul 6 pagi, sampai di lokasi masih sepi (sekitar pukul 6.30). Sekarang sih, kembang tebunya sedang mekar-mekarnya. Dua tahun yang lalu terakhir saya kesana, pagi-pagi sudah ada warung yang jualan kopi dan gorengan. Tapi tadi pagi nggak adaaaa padahal lapeer belum sarapan. Kan paling enggak bisa makan tempe mendoannya disana. Ada gazebo buat istirahat, pengelolanya datang sekitar pukul 7.30 untuk naruh kotak kebersihan. Tapi tetep aja sih gazebonya kotor. Bukan salah pengelola yang tidak membersihkan, tapi pengunjung yang NGGAK BERTANGGUNG JAWAB. Kzl deh.  Waktu kemarin kami kesana, nggak ada tukang parkirnya dan kotak kebersihannya boleh diisi seikhlasnya.  Lokasinya sih cuma buat foto-foto saja. Lumayanlah fotonya buat nambah galeri instagram. Karena tebunya berbunga musiman, kayaknya lokasi ini juga ramenya musiman kali ya.





Lalu kami berpikir, kan masih pagi, masa mau langsung pulang. Karena sepanjang jalan kami melihat banyak papan petunjuk ke beberapa objek wisata, kami memutuskan untuk pergi ke tempat lain, yaitu Taman Sungai Mudal.

2.       2. Kebun Pinus
Dalam perjalanan ke Sungai Mudal dengan pertolongan Waze (hehe!) Kami menemukan lokasi ini secara ngga sengaja. Jadi bukan cuma Bantul yang punya hutan pinus ya, Kulon progo juga punya *nggak mau kalah*. Ga begitu jauh dari lokasi kembang tebu, tapi kami memang Cuma menyempatkan foto di jalan masuk kawasan hutan pinus (yang sebenarnya saya nyesel kenapa ngga masuk :)


Dalam perjalanan ke hutan pinus kami melihat banyak sekali papan petunjuk tempat wisata, yang membuat saya penasaran adalah Ayunan Langit. Ya, mirip-mirip Maribaya di Bandung gitu lah. Lalu kami memutuskan untuk mampir sebentar.

3.       3. Ayunan Langit
Nah, tempat ini sebenarnya sudah terkenal cukup lama. Namun, karena kami tidak pernah main ke kabupaten kami, maka kami bagaikan turis di kampung sendiri. Sedih, ya?
Karena masih pagi, lokasi masih sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang ketika kami sampai, mereka sudah selesai. Tiket masuknya Rp 7000/orang termasuk parkir. Nah, di ayunan langit ini, kita bisa sewa ayunan (aman, kok) dan berayun di ketinggian sekian mdpl (gak tau gue) kita bisa liat gunung dan sawah dari atas. Awalnya ragu, setelah eyel-eyelan sama si Berbi akhirnya saya mencoba memberanikan diri untuk menakhlukan rasa takut. Awalnya saya benar-benar ngga mau, tapi keinget kejadian ke Karimun Jawa saya jadi berani. Haha. Pake safety belt jadi jangan takut jatuh ya. Nah, sebenarnya bagus banget pemandangannya, karena saya panic jadilah saya teriak-teriak doang. Hahaa. Untuk bisa berayun-ayun kek gini, jasa sewa belt dan mas-masnya 20.000 lumayaaaan anu sih L TIPS: kalau mau puas ayunanya, datang pagi ketika belum banyak pengunjung. Lah, pokoknya saya teriak-teriak minta udahan, tapi malah diayun-ayun terus. Disuruh lepas tangan tapi kok ya anuu, semacam ngeri gitu. Begitu bilang, “muaaal masss” baru deh diberhentiin.
Begitu turun, pusing mual lah. Hahaha. Ya karena mungkin belum sarapan juga kali ya…
Udah selesai dan si Berbi curang karena ngga mau naik, kami melanjutkan perjalanan.
Cek instagram: @ayunan_langit




4.     4.  Kopi Pari
Karena kami belum sarapan dan kami lapaar sekali ditambah mual habis ayunan, kami lalu cari tempat makan. Sepanjang jalan, kami melihat papan Kopi Pari. Jadi kami penasaran lalu memutuskan ke sana.
Makan makan lah kayak there’s no tomorrow. Tempatnya unik dan sebenarnya hanya rumah biasa tapi didekorasi unik dengan menu khas desa. Menawarkan kopi Girimulyo asli tapi kami nggak minum kopi. Kan kami laper, jadi pesannya nasi. Perut orang Indonesia banget lah, nasi for lyfe. Yang asik adalah ada wifinya juga. Jadi lumayan sekalian istirahat setelah lelah jalan.  Kalau teman-teman mau menjelajah Kulon Progo apalagi area Girimulyo, mampir lah kesini untuk mencicipi kopi asli Girimulyo. Toilet dan mushola juga ada. Jadi sekalian jadi rest area gitu deh. Instagramnya @kopipari.

5.       5. (Akhirnya) Sungai Mudal
Seharusnya ini jadi lokasi kedua, tapi karena mampir-mampir banyak, kami baru sampai disini sekitar pukul 10.30. Udah rameeee. Parkirnya Rp 2000 dan tiket masuknya Rp. 6000. Hal yang saya sesali adalah, saya pakai sepatu cantik yang bikin repot di jalanan naik, dan juga nggak bawa baju ganti padahal disana pengen renaaaaanggg. Nekat si Berbi nyemplung pake ban pelampung cuma buat foto di kolam yang biru airnya.
Saya sih cuma kebagian foto aja dan nggak jadi naik sampai atas karena sudah lelah…





Pukul 11-an kami akhirnya memutuskan pulang. Si Berbi pulang dengan baju basah kuyup lho. Tapi sampai rumah saya (karena dia harus nganter saya pulang), kering deh bajunya.
Sekian hestionvacay yaa… lain waktu kalau ada yang ngajak, saya akan bagi-bagi cerita piknik lagi.


My Instagram