Writers live twice - Natalie Goldberg

5/01/2026 10:15:00 AM

Liburan ke Malaysia [Hari Kedua] - Dari Kuala Lumpur ke Melaka

by , in

 Selasa, 24 Maret 2026

 

Di KL, kami baru bisa salat subuh sekitar jam 6. Ya, benar. Jam 6 masih gelap di sana. Jadi, kami terbawa santai. Jam 8 pagi, setelah selesai mandi dan siap-siap kami jalan-jalan keliling hotel walaupun selanjutnya kami memutuskan untuk sarapan di resto tepat samping hotel saja. Kami makan nasi lemak dan roti canai. Saya minum jeruk madu, dan tante V3 minum teh tarik. Porsinya besar jadi kami bertiga berbagi makanan. Kami menghabiskan 23 MYR atau sekitar Rp90.000 untuk sarapan. 

 

Setelah itu, kami bersiap untuk check-out. Sekitar jam 10, kami menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS) untuk menuju Melaka. Tiket sudah kami pesan sebelumnya melalui aplikasi easybook.com. Harga satu tiketnya sekitar Rp60.000 dengan armada bus Mayangsari.

 

Terminalnya bersih. Papan petunjuknya jelas. Kami harus naik ke lantai 3 untuk naik busnya. Kami melakukan check-in mandiri dengan memindai kode QR di e-ticket kami. Selanjutnya, menunggu bus datang. Busnya tepat waktu. Sayangnya, penumpang tidak duduk sesuai nomor tiket. Kami cukup kesal. Oh ya… Agi sangat kooperatif! Kami meninggalkan TBS pukul 11.30 untuk menuju Melaka Sentral, terminal pemberhentian bus. Sepanjang jalan Agi tidur. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam.

 

Setibanya kami di terminal Melaka Sentral, kami memesan taksi daring ke hotel Tun Fatimah Riverside Hotel. Hotelnya terletak di tepi sungai Melaka dan dari jendela kamar kami bisa melihat sungai Melaka langsung. Tepuk tangan untuk Tante V3 yang memilihkan hotel ini 😆💕

 

Waktu check-in di hotel itu mulai jam 3. Kami tiba kira-kira pukul 14.00. Jadi, kami menitipkan koper lalu mencari rumah makan di sekitar hotel. Kami makan di sebuah foodcourt di pinggir sungai. Ada beberapa menu. Kami makan shawarma dan tacos. Tentu saja, kami sharing foods lagi karena makanan di Malaysia porsinya besar. Bahkan kami harus membungkus sisa makanannya. Kami menghabiskan sekitar 40 MYR untuk makan kali ini. 

Setelah selesai makan, kami menuju hotel, check-in (tentu saja membayar pajak turis 10 MYR dan deposit 50 MYR), dan beristirahat.

Sorenya, sekitar jam 17.00 kami keluar lagi untuk jalan-jalan sore menyusuri sungai Melaka.

 

Kami berjumpa dengan sesama turis di sepanjang sungai. Ada banyak resto dan cafe di sepanjang sungai itu. Tak terasa kami tiba di lapangan merah, objek wisatanya. Kami menikmati sore itu di sana, berfoto, makan rujak, dan menikmati keriuhan tempat itu. Kami tidak masuk ke museum karena dulu saya sudah pernah dan sepertinya lebih baik tidak membawa anak kecil karena mungkin dia juga tidak tertarik. Agi merengek minta ikut boat tour. Saya hanya bilang “Besok, ya…”

 

Mendekati azan maghrib, sekitar pukul 7, kami mencari masjid, kami mengikuti Google Map, melewati Jonker Street, hingga kami bisa numpang salat di masjid itu. Setelah magrib, kami mencari swalayan untuk membeli air minum dan kami memutuskan untuk membeli mi dalam gelas dan sandwich untuk Agi karena kami terlalu lelah untuk makan di luar. Dan juga karena kami masih punya sisa makan siang tadi.

Kami pun kembali ke hotel sekitar jam 8.30. Kami mandi, makan, lalu tidur.


Video dokumentasi hari kedua ada di sini.

 

 

5/01/2026 10:06:00 AM

Liburan ke Malaysia [Hari Pertama] - Perjalanan dari Yogyakarta ke Kuala Lumpur

by , in

Hello (again)!

    Ide untuk liburan ke Malaysia ini sesungguhnya adalah ide dadakan dan tanpa pertimbangan. Awal Februari, tiket pesawat dipesan. Saya berangkat dengan anak saya, si Agi, dan teman saya, sebut saja tante V3. 

Dia yang memesan tiket pesawat dan hotel. Saya yang menyusun rencana perjalanan. Untungnya, dia tidak keberatan dengan slow traveling dengan balita ini. Padahal balitanya juga baru sekali ini pergi jauh ke luar negeri.

Kenapa tanpa bapaknya Agi? Bapaknya tidak mau ikut. Hihi… 

 

Senin, 23 Maret 2026

Tepat pada hari ketiga lebaran idulfitri, kami berangkat. Kami berangkat dari rumah saya ke YIA (Yogyakarta International Airport) sekitar pukul 7.30 pagi naik Grabcar. Sebenarnya bisa saja naik kereta bandara dari stasiun Tugu. Akan tetapi, jadwal kereta dengan harga 20.000 terlalu pagi sedangkan untuk jadwal yang cocok harganya 70.000. Setelah dipikir-pikir, lebih praktis dan efisien naik taksi saja. 

 

Pukul 8.30 kami sudah tiba di bandara. Kami cukup lama menunggu di ruang tunggu karena pesawat kami terbang pada pukul 11.45. Bawaan kami tidak banyak. Jadi, jatah 7kg/orang aman saja. Hanya, 6 susu kotak yang saya bawa harus dibuang ketika proses pemeriksaan bagasi. Huu… sedih. Tapi masih bersyukur karena petugas memperbolehkan membawa 1 kotak susu Ultra Mimi untuk Agi. Proses pemeriksaan dengan petugas imigrasi juga berjalan lancar. Petugas hanya menanyakan tujuan ke Malaysia, di mana kami akan tinggal, berapa hari, dan apakah sudah ada tiket pulang. Aman. Walaupun pergi berkelompok, pastikan semua anggota tahu tentang hal ini, ya.

 

Oh ya, awalnya saya ragu untuk membawa stroller. Tetapi untungnya ini tidak menjadi masalah. Stroller boleh dibawa masuk sampai depan pintu pesawat. Proses boarding berjalan lancar dan pesawat terbang tepat waktu. Agi senang sekali akhirnya dia bisa naik pesawat sungguhan. Walaupun pada akhirnya, dia tidur selama perjalanan.

 

    Kami tiba di KLIA2 dengan selamat. Sebelumnya, kami sudah  mengisi formulir Malaysia Digital Arrival Card (MDAC) Formulirnya bisa diisi 3 hari sebelum kedatangan. Proses imigrasi memakan waktu satu setengah jam. Si Agi sudah agak rungsing karena bosan. Setelah selesai proses imigrasi, kami langsung makan di Resto Memang Meaw di KLIA2. Ada drama salah pesan menu yang ternyata Agi tidak bisa makan karena terlalu pedas untuk dia. Dia pun makan onigiri Indomaret yang dibeli di bandara tadi.

Catatan: lebih baik pesan makanan di pesawat aja deh karena harga makanan di resto bandara mahal sekali >.< Opsi yang lebih murah ya membawa bekal sendiri.Setelah itu, kami pesan taksi Grab untuk menuju De Elements Business Hotel di mana kami menginap semalam. Dari KLIA2 ke hotel memakan waktu sekitar 1 jam dengan membayar 86.19 MYR. Sengaja kami memilih hotel dekat Terminal Bersepadu Selatan (TBS) karena esok harinya kami akan pergi ke Melaka. 

 

    Saya baru sadar, ternyata KL dan Jakarta punya beda waktu 1 jam. Jam 19.00 ketika kami masih di taksi, masih ada matahari. Kami diantar oleh sopir taksi perempuan yang ramah sekali dan dugaan saya, dia menjadi sopir karena gabut saja. Saya bisa melihat barang-barang dia di mobilnya bermerk semua dan juga dia memberikan Agi amplop lebaran. Alhamdulillah.

Kami tiba di hotel, check-in, kemudian bebersih. Ada pajak turis 8 MYR dan deposit 50 MYR ketika masuk hotel.

 

Hotelnya murah, cukup bersih, dan di sekitarnya ada banyak toko dan resto. Pada malam harinya, kami membeli burger di resto depan hotel dan air minum di warung. Lalu, kami pun tidur.

Agi was a nice boy, he didn’t complain about the long trip and everything. He was happy!

 

 

Video dokumentasi perjalanan hari pertama di sini.




12/26/2020 12:12:00 AM

2020, it's a wrap!

by , in




Menjadi blogger yang konsisten menulis memang sulit sekali ternyata. Setahun sudah saya tidak menyentuh blog ini sama sekali. Kemarin sempat iri sama teman saya yang bisa konsisten dan malah bisa menghasilkan uang dari tulisannya. Dia sih ngasih semangat supaya saya rajin menulis tapi, ya ... *ah dasar banyak alasan. 

Mari kita mulai dengan merangkum kejadian apa saja yang terjadi pada diri saya selama tahun 2020 yang ternyata tidak secantik angkanya. 

Januari 2020

Sebulan liburan panjang setelah bertugas di Dili. Masa-masa senang karena bisa bertemu kembali dengan keluarga dan teman setelah berpisah sekitar 3 bulan. Di bulan ini, sempat pula pergi ke Jember dan Malang untuk kangen-kangenan dengan teman-teman satu penugasan. Dan ternyata ini adalah piknik luar kota saya yang pertama dan terakhir di tahun 2020 ini.


Februari 2020

Pada bulan Februari saya sudah mulai aktif kuliah dan bekerja lagi. Yang spesial adalah akhirnya saya berhenti sebagai anak kos dan pindah ke rumah sendiri. Sebenarnya masih 60% tapi sudah saya tempati karena daripada bayar kos lagi, kan? Akhirnya berhasil bantu ibu membangun rumah dengan uang hasil banting tulang dan perasan keringat. Banyak perhitungan yang meleset saat proses pembangunan ini tapi ini adalah pelajaran yang sangat berharga jika nantinya saya dimampukan lagi membangun gubug yang lain.


Maret 2020

COVID-19 mulai masuk Indonesia. Tidak pernah terpikirkan bahwa rencana hidup akan berubah 95%. Tanpa ancang-ancang dunia dinyatakan berada pada masa pandemi. Pada bulan ini masih optimis bahwa semua segera berlalu tapi ternyata tidak... 


April - September 2020

Saya benar-benar tidak bisa mengingat hal-hal spesial yang terjadi di bulan-bulan ini. Bulan-bulan ini adalah masa-masa berat karena harus beradaptasi dnegan kebiasaan baru di masa pandemi. Tidak keluar rumah, tidak bertemu orang, tidak bisa bersamalan apalagi berpelukan dan harus selalu bermasker. Selain itu, adaptasi ke sistem pembelajaran daring benar-benar membuat lelah jiwa dan raga. Belum lagi masalah finansial karena tabungan sudah terlanjur habis untuk pembangunan rumah dan membayar SPP kuliah dan tidak banyak pekerjaan paruh waktu lain yang biasanya ada. Yang lebih menyedihkan adalah orang yang saya bantu dengan meminjaminya uang, dia kabur. Saya juga harus menyelesaikan semester kedua saya di universitas. Semester paling berat karena saya mengambil 6 mata kuliah yang harus saya selesaikan.

The good news is I got engaged in May a week after my birthday. 


Oktober 2020

Ya, karena memang pendapatan di masa pandemi ini turun drastis saya harus berpikir keras bagaimana saya harus mendapatkan uang untuk memulihkan tabungan saya, menyiapkan pernikahan, dan melanjutkan pembangunan rumah. Jadi, mulai bulan Oktober (September akhir tepatnya), saya mulai menemukan jalan untuk mulai berjualan jasa mengajar lagi. 


November 2020

Saya sudah mulai berdamai dengan keadaan dan menormalkan hidup yang tidak normal ini. Proposal tesis saya diterima, tinggal ke tahap selanjutnya. 


Desember 2020

Alhamdulillah saya masih bisa bernapas. Saya masih sehat dan bahagia. Saya masih bisa bercengkerama dengan keluarga dan teman-teman terdekat saya. Saya akhirnya sudah bisa mengumpulkan modal menikah, ya paling tidak untuk membayar suvenir, dekorasi, foto dan video, dan paes, seragam, dan perintilan-perintilan lain. Saya baru mulai menabung untuk biaya pernikahan pada bulan Oktober dan pada bulan Desember sudah tercukupi. Pekerjaan berjalan dengan baik. Hanya saja, tesis mulai keteteran. Memang sulit sekali menyeimbangkan antara bekerja, kuliah, dan mempersiapkan pernikahan. 


Dari semua itu, saya bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT atas segalanya yang terjadi pada tahun 2020 ini. Ada banyak hal lagi yang ingin saya capai pada tahun 2021. See you in the next post :)




11/20/2019 10:24:00 AM

Dili untuk Kedua Kali

by , in

-->
Menjelang Pulang #30

20 Sepetember 2019, hari pertama tiba di Dili :)

Rasa-rasanya saya memang harus rajin menulis di sini sebagai pengingat bahwa saya pernah menginjakkan kaki di Bumi Lorosae. Kedatangan saya ke sini sebenarnya sudah menjadi kali kedua setelah tahun lalu saya juga bertugas di sini. Ada sedikit penyesalan tahun lalu saya sama-sekali tidak punya kenangan yang bisa saya bagikan. Jadi, ayo kita mulai =)

Untuk apa ke Timor Leste?
Masih sama seperti tahun lalu yaitu menunaikan tugas sebagai duta bahasa negara. Ya, para duta bahasa ditugaskan ke berbagai negara untuk menduniakan bahasa Indonesia, termasuk Timor Leste. Hanya saja, saya merupakan salah satu yang sangat beruntung bisa ke TL untuk kedua kalinya yang artinya saya masih dipercaya di sini dan kerja saya tidak terlalu mengecewakan tahun lalu J.
Penugasan kali ini membawa misi berbeda dengan penugasan yang lain. Karena, selain mengajarkan bahasa Indonesia dan budayanya, kali ini saya dan tim lebih berfokus untuk melatih para pengajar BIPA di Timor Leste, Training of Trainers (ToT) istilahnya. Di Timor Leste sendiri, bahasa Indonesia sendiri sudah diajarkan di sekolah oleh guru-guru yang bisa berbahasa Indonesia. Karena kebanyakan pengajar bukan berlatar belakang pendidikan, dan juga kurikulum dan system pengajaran yang masih belum jelas, diperlukan semacam pelatihan bagi para pengajar supaya bisa mengajar dengan baik dan benar.

Mengapa ke TL lagi?
Seandainya saya bisa memilih pasti saya akan memilih ke negara di Eropa atau Australia, negara harapan para hampir semua duta bahasa. Di samping bergengsi, bisa untuk isi feed Instagram, ya kan? Tapi sayangnya, selain tak bisa memilih saya juga merasa punya tanggung jawab untuk siap sedia ditugaskan ke mana pun tempatnya. Wakanda pun oke-oke saja sebenarnya “). Sebagian warga Timor Leste masih bisa dan sudah bisa berbahasa Indonesia sebenarnya. Jadi utusan yang ditugaskan ke Timor Leste seharusnya berbangga, karena tidak hanya harus bisa mengajar bahasa Indonesia, namun juga membawa ‘misi’ lain. Seperti yang saya sebutkan tadi, kudu mampu menyelenggarakan ToT, mengajarkan budaya-budaya, dan lain-lain. Selain itu, wajib bisa bertahan hidup melawan teriknya matahari, fisik yang kudu kuat jalan, dan terbatasnya hiburan di sini. Nah, lain kali akan saya ceritakan versi kehidupan di TL seperti apa J.

Bagaimana perasaan ketika tiba di TL untuk kedua kalinya?
Semenjak kepulangan saya ke Indonesia, memang ada sebentuk rindu untuk Timor Leste. Walaupun panas dan tidak ada hiburan (T.T) entah apa yang membuat Dili bisa dirindukan. Mungkin karena selama di Dili saya punya kenangan cukup banyak dengan orang-orangnya, dengan pantainya, dan hal-hal lain yang dulu pernah saya lakukan di sini.

Untuk menutup tulisan Menjelang Pulang #30 kali ini, doakan saja saya punya cukup waktu untuk tetap konsisten menulis. =)  See ya... Xx. /h


11/06/2019 08:13:00 AM

Menyapa (kembali) dari Dili

by , in

Bundaran Elemloi

Niat saya, mau menulis sesuatu di sini setiap minggu supaya ada yang bisa menjadi kenang-kenangan untuk saya bahkan anak cucu saya nantinya. Tapi kenyataannya pada hari yang ke 40 sekian tak sempat pun menengok laman ini. Sedih kan... :(

Intinya, saya kembali lagi ke Dili, setelah tahun lalu saya datang dan sempat mencecap panas terik hujan beceknya kota kecil ini. Ya, masih dengan tugas yang sama, sebagai duta bahasa negara. Bangga? Iya sudah pasti. Dipercaya kedua kalinya untuk mengemban tugas di negara yang sama merupakan bukti bahwa tahun lalu kinerja saya tidak begitu memalukan -.-. Nah, seperti itu kira-kira. Walaupun di sisi lain, melihat teman-teman yang setiap tahun pindah dari Aussie ke Inggris, dari Swiss ke Aussie, atau Timor Leste ke Italia sungguh membuat iri tak bertepi. But still, everything happens for a reason, doesn't it?
Timor Plaza, satu-satunya mall di Dili

Dili masih sama seperti tahun lalu. Saya masih berjumpa dengan kehangatan sambutan orang-orangnya (apalagi mantan murid-murid saya), masih dengan mikrolet dengan jedug-jedug musiknya, masih dengan maun penjual sayur gerobak dengan full sound system, dan satu-satunya mal yang tutup pukul 6 sore.

Lain waktu, saya akan cerita lebih banyak. Semoga punya waktu. Salam dari Dili. Xx



My Instagram