Writers live twice - Natalie Goldberg

6/30/2019 09:23:00 AM

[Berbagi Pengalaman] Otitis Eksterna

by , in



Tiba-tiba budeg sebelah...

Sumber: Pinterest - ilustrasi doang :)



Kejadian ini sebenarnya sudah berlangsung sekitar 2 bulan yang lalu. Sebuah peristiwa yang cukup membuat panik. Saat saya bangun tidur, tiba-tiba ada yang aneh dengan telinga kiri, budeg sebelah, gaess ~ Rasanya seperti tersumbat dan pendengaran menjadi tak seimbang antara kiri dan kanan. Mirip-mirip kayak pas budeg waktu naik pesawat. Saya panik dong dan takut kalau saya mendadak tuli. Saya coba pakai earphone untuk memastikan apakah saya budeg total atau masih bisa mendengar suara. Alhamdulillah, masih bisa mendengar walaupun suaranya hanya terdengan samar. Rasanya nggak enak banget karena pendengaran jauh berkurang. Pagi itu, saya masih berangkat kerja dengan kondisi budeg sebelah.
Setelah mengingat-ingat, beberapa waktu sebelumnya, saya juga pernah budeg sebelah tapi bisa kembali normal dengan cara menutup hidung dan mulut lalu coba mengembuskan udara keluar. Untuk yang kedua ini, cara itu sama sekali tidak berhasil. Saya coba tanya teman-teman ada yang bilang karena kotoran lah, ada yang ini dan itu lah. Kemudian, saya coba ingat lagi. Saya punya riwayat sakit telinga yang cukup parah waktu SD (20 tahun yg lalu) dan waktu itu saya sempat berobat jalan dan dirujuk ke beberapa rumah sakit di Jogja. Pengobatannya cukup lama sampai akhirnya aku dinyatakan sembuh dan bisa mendengar secara normal. Waktu itu, penyebabnya adalah karena saya sering pakai cotton bud sehingga kotoran kelinga bukannya keluar tapi malah terdesak masuk ke dalam. Fyi, cotton bud memang tidak boleh digunakan untuk mengeluarkan kotoran telinga.

Nah, hari itu, saya cari beberapa referensi dokter THT di Jogja. Pengennya yang saya bisa langsung datang siang itu juga karena sudah nggak betah banget. Tapi dokter spesialis THT baik yang buka praktik sendiri maupun poliklinik di rumah sakit punya jam praktik dan itu sekitar pukul 17.00. Ada beberapa klinik yang saya temukan di Google, termasuk yang dekat kos. Saya pergi ke sana setelah buka puasa, tapi sampai pukul 18.30 dokternya belum ada padahal jam bukanya pukul 17.00. Karena sudah tidak sabar, saya ke RS dan langsung masuk poli karena pasien pertamanya cuma saya.

Waktu diperiksa, dokternya bilang, penyebabnya bukan karena kotoran (walaupun ada tindakan pembersihan juga) tapi karena ada air yang masuk menembus selaput gendang. Air yang ada di luar gendang memang sudah disedot, tapi yang di dalam kan gak bisa. Telinga saya akhirnya disumpel menggunakan semacam kasa untuk menyerap air yang tidak bisa disedot dengan alat. Kasanya harus tetap dipakai sampai 3-5 hari sampai lepas sendiri. Itu gaess, nggak enak banget karena kehilangan keseimbangan seperti waktu kita kehilangan seseorang yang kita sayang *eh. Dokternya juga tanya apakah saya punya riwayat sakit telinga. Semacam beliau sudah tahu. Sedihnya lagi, dokter bilang kalau telinga saya nggak boleh kemasukan air lagi that means I am not allowed to swim for the rest of my life. Ya walaupun nggak bisa renang tapi saya suka berendam di air :( Itu aja sih penanganannya dan saya dapat resep antibiotik aja. Sore itu, saya menghabiskan Rp260.000 untuk biaya konsultasi, penanganan, dan antibiotik. *sedih*

Sebenarnya, seminggu setelah periksa saya harus kembali kontrol. Tapi kan saya ingin cari opini kedua dari dokter lain karena kalau kasusnya saya sampai nggak boleh renang berarti ada 'cacat' yang lumayan parah. Apalagi kan saya suka keramas takutnya keramas juga bahaya. Mengenai sumpelan kasa itu, hari kedua sudah saya lepas paksa soalnya sudah sangat tidak nyaman tapi antibiotiknya tetap saya habiskan. Setelah dilepas, pendengaran saya normal lagi. Alhamdulillah. Saya cari alternatif dokter THT lain dan akhirnya pergi ke RS Nyi Ageng Serang yang dekat rumah dan bisa pakai Kartu Indonesia Sehat walaupun saya harus ke Puskesmas Nanggulan untuk minta surat rujukan. Ada hal yg bikin saya sebaaal waktu diperiksa dokter puskesmas, dia cek telinga saya hanya menggunakan senter HP cobaaa... itu kan sangat nggak profesional dan lagi di surat rujukannya dia menuliskan nama penyakit yang cuma dia deteksi dari lampu senter HP. Emang bisa ya tahu nama penyakit cuma liat dari lampu senter HP yang cuma disenteri beberapa detik?


Hari itu, saya langsung ke RS Nyi Ageng Serang. Setelah mendaftar dan mengantri (antriannya panjang jadi saya tinggal pulang dulu), saya ketemu dokter spesialisnya. Beliau cek semua menggunakan alat khusus dan ada monitor dan pasiennya bisa melihat langsung. Beliau juga bilang bahwa gendang telinga saya dalam keadaan baik dan gak ada larangan sama sekali untuk berenang. Yey! Ayok ke pantai ~ Jadi, yang saya alami itu disebut otitis eksterna atau infeksi saluran telinga luar. Saya dapat obat tetes dan harus kembali kontrol seminggu setelahnya. Obat tetesnya nggak begitu rutin saya pakai, sih. Waktu kontrol seminggu sesudahnya, dokter bilang kalau semuanya sudah baik-baik saja.

Obat tetesnya

Sebelum kejadian itu, saya memang pergi rafting ke Sungai Elo dan sempat nyemplung ke sungai (dan sungainya kotor). Jadi, wajar saja kalau kemasukan air (kotor). Padahal sebelum-sebelumnya, saya sering snorkeling tapi gak kejadian kayak gitu.
Nah, mengenai penggunaan cotton bud, memang tidak boleh ya. Ada banyak artikel yang membahas tentang itu. Kotoran telinga bisa keluar dengan sendirinya jadi gak perlu dipaksa keluar karena bisa saja ujung cotton bud malah mendorong kotoran masuk lebih dalam.
Bonus foto rafting. hehe

Bagi yang mengalami hal serupa, telinga tidak bisa mendengar di salah satu sisi, silakan cek ke dokter. Pertolongan pertama adalah dengan menutup hidung dan mulut lalu tiup. Kalau tidak berhasil ya ke dokter. Menjaga kesehatan telinga penting, kurangi penggunaan earphone/headset dan tidak menggunakan cotton bud.
Tambahan nih, semoga utas ini memberikan pencerahan tentang bagaimana menjaga kesehatan pendengaran klik di sini.

Semoga membantu,

Xx
Hesti ~
6/24/2019 10:40:00 AM

Ada di Youtube

by , in
Nggak pernah nyangka ya, Youtube bisa sebesar sekarang bahkan banyak yang mengakui Youtube lebih dari TV. Ya, setuju sih ini, apalagi sekarang acara-acara TV sudah mulai membosankan dan kurang nilai edukasinya. Di Youtube, kita bisa menonton apapun yang kita mau, tinggal pilih dan semuanya ada.

Saya sudah familiar dengan Youtube sejak lama namun hanya karena kegaptekan yang hakiki inilah yang membuat saya tidak bisa mengoptimalkan Youtube sebagai media narsis dan pengucur cuan. Nah, ini beberapa tautan Youtube yang menampilkan muka saya ada video-video iseng dan ada pula yang dikerjakan secara profesional.

Tautan bisa diklik.

1. Video iseng nyanyi-nyanyi bareng biduan sedikit ternama, Tita, Perahu Kertas Cover dan Cinta Datang Terlambat Cover

Ini video iseng yang sesungguhnya, direkam dengan kamera seadanya, dan suara ala kadarnya. Yang bagus suaranya Tita (DIA PENYANYI) dan yang B aja itu suara saya. Jadi, plis kalau nggak kuat nggak usah dilihat dan didengar.

2. Video belajar bahasa Inggris Describing People dan Introducing Others

Dua video ini dikerjaan secara profesional waktu saya bekerja di startup. Saya juga heran kenapa saya ikutan jadi talent padahal kan saya disitu harusnya cuma jadi penulis konten -,-/ Tapi, lumayan juga lah bisa jadi kenang-kenangan.

3. Video yang ditayangkan di salah satu TV swasta di Dili, Timor Leste Pembekalan Guru Bahasa Indonesia di Timor Leste

Yang ini buat saya cukup membanggakan, ditayangkan di acara berita di TV Timor Leste. Bisa dianggap sudah go international belum sih? :/:/

Plis netczen, jangan dihujat T.T

Sebenarnya masih banyak video-video (mentah) yang ada di hardisk. Hanya saja ada perasaan 'kok gue alay' yang akhirnya saya putuskan nggak usah diunggah sajalah. Tapi, saya dan Tita berniat mau membuat sebanyak mungkin video, buat sharing apapun atau sebagai pengingat bahwa kami termasuk golongan orang-orang yang haus popularitas. :]

Baiklah, silakan tunggu yaaa...

Xx,
Hesti~

3/21/2019 11:02:00 AM

Re-greeting

by , in
Hello (again), my abandoned blog. It's been ages since the last time I posted. I drafted lots of writings but feeling way too reluctant to hit the publish button. Well, I should've pushed myself harder to consistently write.
Since the day I returned home from Dili, I planned to share many things I experienced from my journey. But again, I didn't know where I had been. I myself got shocked since I found nothing posted. My bad. 





This picture was taken by Mas Ungs when we would fly back to Yogyakarta. It was a coincidence that he also returned home from his study in Melbourne. We met in Soeta. Well, let me try. Let me begin again. Xx, hesti

9/18/2018 10:33:00 PM

7 Hari Pertama di Dili

by , in



Senja di Cristo Rei

Perjalanan saya ke Dili dimulai dari hari Senin, 3 September 2018 karena saya harus ke Sentul, Bogor mengurus dokumen perjalanan. Setelah subuh di pagi buta yang syahdu itu, saya berangkat ke bandara Adisucipto. Setelah check-in, saya menunggu kurang lebih satu jam sebelum terbang ke bandara Soekarno Hatta. Awalnya janjian sama teman-teman mau ke Sentul bareng, tapi ya gitu deh… Ternyata ada drama ditinggalkan dan meninggalkan >.<.
Selasa, 4 September 2018 kami berangkat ke Soeta lagi untuk ke Dili. Saya tidur pukul 00.30 dan bangun pukul 1.00 berangkat dari Sentul ke Soeta. Sepertinya tidak ada penerbangan langsung ke Dili, jadi kami dari Cengkareng harus transit ke bandara Ngurah Rai, Bali. Saya dan 2 teman saya terbang dengan Citilink kurang lebih 2 jam, lalu menuju cari penerbangan internasional ke Dili dengan Sriwijaya Air. Kira-kira pukul 13.00 WIT, kami tiba di bandara Nicolau Lobato. Dan kesan pertama adalah PANAS. Hahaha…

Kami dijemput oleh Mas Dimi, staf Pusat Budaya Indonesia, yang membantu mengurus VoA kami. Kami bayar USD30 untuk visa. Lalu kami singgah dulu ke PBI sebelum ke rumah tinggal untuk kemudian mempersiapkan diri untuk melaksanakan tugas negara yang telah menanti…. 😊
Jadi kalau kalian menanti-nanti cerita dari Dili, baca baik-baik ya...

Dili itu…

panas banget .
Dili itu panasnya tidak tak main-main. Jogja memang panas, tapi Dili panasnya lebih wow. Sampai hari ke-14 ini saya belum merasa gosong padahal sering jalan di bawah teriknya sinar mentari yang menyinari bumi Lorosae ini. Tapi sempat sih kulit jadi kering banget, tapi sekarang sudah normal kembali. 

terletak di tepi pantai.
Bahagia banget dong saya sebagai anak pantai yang bisa (hampir) setiap hari melihat pantai. Pantainya bersih dan banyak pohon kelapanya. Ombaknya kecil dan anginnya semilir. 

menggunakan mata uang USD dan centavos
Nominal terkecil adalah 5 cent dan terbesar $100. Cent atau centavos ini bentuknya koin yang merupakan mata uang asli Timor Leste. Mengapa memakai USD juga? Karena centavos belum diakui secara internasional. Oleh karena itu, Timor Leste menggunakan USD sebagai alat pembayaran. Saya lebih sering belanja dengan koin-koin itu daripada uang kertas. Uang kertas ($1, $5, $10, $20, $50, $100) biasanya hanya saya pakai untuk berbelanja di supermarket. Jadi, bagi yang mau ke Timor Leste, bawalah dompet koin. Di Indonesia, saya sering banget menelantarkan koin sisa kembalian dari warung tapi ternyata di sini satu keping koin sangat berharga. 

orangnya ramah
Selama ini saya menemukan penduduk lokal yang ramah. Setiap kali bertemu orang lokal, mereka selalu menyapa bon dia (selamat pagi), bou tarde (selamat siang), bou noitte (selamat malam), dan sebagainya. Terdengar seerti bahasa Spanyol, ya? Jadi merasa tak sia-sia dulu pernah jatuh bangun ikut kursusnya Pak Santiago Gonzales. Bahasa nasional Timor Leste adalah tetun dan Portugis. Hanya kadang kalau saya dan teman-teman sedang jalan, kami sering dipandang orang. Mungkin karena kami terlihat ‘berbeda’ kali ya? Lalu kadang banyak orang iseng memanggil.

seperti Indonesia juga
Gimana enggak? Banyak orang yang juga bisa bahasa Indonesia, banyak pula makanan yang diimpor dari Indonesia, sayur dan buah juga seperti di Indonesia (hanya harganya saja yang beda hahaha). Mirip Kupang atau Ende lah. Beda waktu Dili dan Yogyakara 2 jam tapi di sini pukul 7 malam masih teran.

adalah kota angkot
Yang saya gunakan untuk pergi yaitu angkot. Angkot di sini sudah punya jalur masing-masing. Jadi, kita hanya perlu menghafal nomornya. Tarifnya 25 cent untuk rute jauh dekat. 

tidak ada hiburan malam
Sedihnya tuh, mall di sini tutup pukul 7. Bioskopnya sih sampai pukul 9, tapi tetap tidak bisa keluar karena angkotnya sudah kembali ke kandang pukul 18.00. Untungnya saya tinggal serumah dengan teman-teman. Jadi, cukuplah mereka sebagai hiburan saya. Padahal kalau di Jogja biasanya pukul 7 saya baru selesai dandan siap ngelayap tuh. :l

Saya beruntung bertugas di Dili karena saya bisa bertemu dengan Jess dan Sanjay yang baek bangeeet walaupun kadang ngeselin wkwk dan saya lebih ngeselin (ya aku tahu ituu uwuwu). Lalu saya bertemu dengan Mbak Yeni sekeluarga yang selalu membuat saya terharu karena kebaikannya dan lain-lainnya. Lalu teman-teman kloter 2 datang dan kami selalu bermain monopoli dan masak-masakan bersama (hanya orang dalam yang tahu, hahaha…) dan PBI yang mempertemukan dengan murid-murid yang katanya ingin sekali belajar bahasa Indonesia dan ingin pergi ke Indonesia (unch terharu).

Seharusnya tulisan ini saya unggah seminggu lalu, supaya pas bertepatan dengan 7 hari pertama di Dili. Walaupun di instagram saya terlihat piknik-piknik terus, kenyataannya tidak. Hahaha... Bahkan kadang lembur sampai malam untuk membuat ini itu dan belajar untuk mengajar. Dan tulisan inipun sebenarnya saya selesaikan dengan penuh perjuangan di sela-sela membagi kelas bahasa Indonesia untuk besok dan mempersiapkan materi, menulis laporan, dan berusaha mengetik dengan keyboard yang huruf 'p'-nya kadang mau dipencet kadang tidak dan menahan kantuk. Sesungguhnya hidup itu penuh perjuangan, bukan?
Foto menyusul ya…                       

My Instagram